perpustakaan uin malang

Sebagai jantung perguruan tinggi, keberadaan perpustakaan memiliki peran yang sangat penting dan strategis, yaitu sebagai pusat informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Menyadari akan fungsi strategisnya, perpustakaan selalu berusaha menyediakan informasi ilmu pengetahuan mutakhir dengan memberikan pelayanan secara cepat, akurat, murah, dan nyaman. Oleh karena itu, perpustakaan dipandang sebagai salah satu rukun dari tujuh rukun lembaga, yaitu ma’had, masjid, perpustakaan, laboratorium, ruang kuliah, ruang kantor, dan lapangan olahraga yang hendak dikembangkan demi kokohnya eksistensi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Pengembangan tersebut diarahkan untuk mencapai empat kekuatan yang dikembangkan oleh UIN Malang, yaitu: kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu, dan kekokohan profesional. Dengan kata lain, UIN Malang hendak membentuk manusia yang ulama-intelek-professional atau intelek professional yang ulama.

Untuk mendukung tercapainya empat kekuatan ideal tersebut, maka kehadiran perpustakaan sebagai pusat informasi ilmu pengetahuan dan teknologi harus mendapatkan perhatian serius. Perpustakaan bukanlah sekedar gudang buku, sedangkan pegawainya hanya sebagai penjaga atau penunggu gudang. Perpustakaan bukan pula sekedar tempat transaksi pinjam meminjam buku, dan pegawainya hanya bertugas untuk menarik denda bila ada yang terlambat mengembalikan. Demikian pula mahasiswa dan dosen bukan sekedar sebagai masyarakat wajib baca buku bila kebetulan ada tugas akademik, lebih dari itu mereka merupakan atau “masyarakat belajar” yang benar-benar sadar bahwa “membaca” merupakan suatu kebutuhan sepanjang hidup. Karena itu harus dilakukan perubahan cara pandang, agar perpustakaan  benar-benar berfungsi sebagai jantung perguruan tinggi, bahkan jantung kehidupan masyarakat pada umumnya.

Sebagai jantung perguruan tinggi, insan perpustakaan UIN Malang memiliki kewajiban moral untuk senantiasa aktif dan setia memberikan pelayanan yang optimal di bawah payung empat kekuatan di muka. Karena itulah, Perpustakaan UIN Malang memandang urgen untuk mendekonstruksi paradigma lama yang tidak relevan untuk segera diganti dengan paradigma baru yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman. Perpustakaan yang terkesan sebagai gudang buku, ibarat ruang yang di dalamnya sepi dari dinamika kehidupan akademik harus segera diubah. Paradigma baru dimaksud adalah, bahwa perpustakaan UIN Malang sebagai “Pusat Informasi dan Wacana Akademik” yang di didalamnya diisi oleh insan-insan perpustakaan yang cerdas akalnya, kuat spiritnya, tinggi moralnya, dan suka bekerja keras.

Tidak dapat disangkal bahwa perpustakaan adalah jantung perguruan tinggi. Menyadari akan fungsi strategisnya, Perpustakaan UIN Malang selalu berusaha memberikan pelayanan dengan cepat, akurat, nyaman dan menyediakan informasi keilmuan yang mutakhir. Menyadari tuntutan riil yang terjadi di UIN Malang dalam rangka menyongsong masa depan Universitas Negeri Islam (UIN) Malang, maka dipandang perlu menyusun rencana pengembangan perpustakaan UIN Malang ke depan.

Kondisi Perpustakaan sekarang ini dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Keadaan fisik. Luas gedung 900 m2 (dua lantai), terdiri dari 11 ruang: 1 ruang kepala, 1 ruang tamu, 1 ruang referensi, 1 ruang sirkulasi, 1 ruang penitipan barang, 1 ruang photo copy, 1 ruang teknisi, 1 ruang koleksi umum, ruang baca, dan 2 kamar kecil.

2. Koleksi. Koleksi yang dipunyai saat ini:
Buku berjumlah 39.137 eksemplar dengan 8.756 judul;
Jurnal luar negeri 2 buah;
Jurnal dalam negeri 4 buah;
majalah luar negeri 2 buah;
majalah dalam negeri  5 buah;
surat kabar luar negeri 2 buah;
surat kabar dalam negeri 7 buah.

3. Peralatan. Peralatan elektronik yang dipunyai saat ini berupa :
7 unit komputer; 4 printer; 1 buah scanner; 3 buah Bar Code Reader;1 buah VCD Player; 1 buah TV berwarna 14 inc.; 1 buah mesin photo copy;  5 buah CCTV; dan 5 buah  TV monitor.

4. Personalia. Perpustakaan UIN Malang dipimpin oleh seorang kepala perpustakaan yang membawahi 17 orang petugas perpustakaan dengan kualifikasi sebagai berikut: 12 orang berijazah S1; 1 orang D3 perpustakaan, dan 5 orang tamatan SMU. (Personalia Terlampir)

5. Pelayanan. Jenis layanan pengguna yang ada saat ini adalah : peminjaman, referensi, OPAC (On Line Public Access Catalogue), Rental komputer, dan photo copy.

Kegiatan di Perpustakaan

 

Pengembangan Perpustakaan
Perpustakaan menetapkan beberapa prioritas pengembangan pengadaan sarana dan prasarana yang memadai, pelayanan yang cepat dan akurat dengan  sistem full otomasi, pengembangan koleksi sesuai dengan  kemutakhiran perkembangan ilmu, peningkatan kualitas SDM,  dan mengadakan kerjasama antar perpustakaan

Untuk itu, disusunlah rencana pengembangan perpustakaan sbb:

  • Pengembangan sarana fisik. Sesuai dengan Rencana Strategis Pengembangan UIN Malang 10 tahun ke depan, akan dibangun gedung perpustakaan 3 lantai seluas 3168,75 m2 yang terdiri dari 11 ruang.

  • Pengembangan pelayanan pengguna. Perpustakaan senantiasa  ingin mengembangkan layanan pada pengguna bukan saja melayani jasa peminjaman dengan full otomasi namun juga ingin mengembangkan jasa pelayanan seperti: Pelayanan referensi dilengkapi dengan  microface, CD ROM dan internet, pelayanan ruang khusus untuk peneliti (study Carrel), pelayanan kliping, pelayanan bibliografi, dan pelayanan silang layan.

  • Pengembangan koleksi: penambahan buku sebanyak 150.000 eksamplar, penambahan jurnal luar negeri sebanyak 20 judul, penambahan jurnal dalam negeri sebanyak 25 judul, penambahan majalah luar negeri  sebanyak 10 judul, penambahan majalah  dalam negeri sebanyak 25 judul, penambahan koleksi CD ROM.

  • Pengembangan SDM, melalui: penambahan tenaga pustakawan, peningkatan wawasan dan skill bagi staff yang ada melalui pengiriman studi lanjut, pelatihan manajemen keperpustakaan, dan mengadakan studi banding ke perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi lain.

  • Pengembangan kerja sama antar perpustakaan.

  • Kerja sama perpustakaan adalah hal yang sangat penting dalam era informasi karena satu perpustakaan tidak mungkin bisa menyediakan semua informasi yang diperlukan pengguna. Oleh karena itu perpustakaan mengupayakan adanya: jaringan informasi dan kerja sama perpustakaan dalam bentuk inter library loan.

Visi dan Misi Perpustakaan UIN Malang

1. Mengamankan Aset Perpustakaan
Asset perpustakaan yang telah dimiliki oleh UIN Malang saat ini ada sekitar 39.000-an lebih koleksi buku, baik koleksi buku-buku umum, koleksi buku-buku keislaman, maupun koleksi buku-buku referensi. Jumlah tersebut mayoritas masih bernuansa ketarbiyahan (pendidikan) dan keagamaan (keIslaman). Baru-baru ini, setelah UIN Malang diberi wewenang Wider Mandate untuk membuka jurusan dan program studi baru, koleksi tersebut semakin beragam. Ada koleksi untuk ilmu-ilmu Biologi, Matematika, Kimia, Fisika, Ekonomi, Hukum, Psikologi, Sosial Politik, Kesehatan Masyarakat, Lingkungan, dan sebagainya. Sumber-sumber belajar tersebut selain perlu diamankan dari kerusakan dan kehilangan, jumlah dan kualitas koleksi buku yang ada perlu secara terus menerus ditingkatkan secara berkesinambungan untuk disesuaikan dengan perkembangan ilmu dan tuntutan lembaga.

Secara operasional,  pengamanan terhadap asset perpustakaan tersebut dijabarkan dalam 3 program pelayanan perpustakaan dalam bentuk:

  • Melakukan sosialisasi secara kontinyu dan berkelanjutan kepada para pengguna jasa perpustakaan bagaimana mengakses perpustakaan dengan baik dan benar, minimal setahun sekali ketika ada acara orientasi mahasiswa baru (OPKAL).

  • Selalu menginformasikan dan menagih kepada para pengguna jasa perpustakaan agar mengembalikan asset perpustakaan yang dipinjam tepat waktu, baik melalui lisan, telepon, maupun surat resmi.

  • Dalam waktu dekat, akan dikembangkan pengamanan terhadap asset perpustakaan dengan alat deteksi canggih scurity gate, camera monitor, alarm dan pintu numbering untuk mendukung sitem otomasi (komputerisasi). Hal ini relevan dengan bentuk pelayanan terbuka (open acces) perpustakaan UIN Malang yang telah dikembangkan selama ini.

2. Mendorong Bangkitnya Wacana Akademik
Pandangan negatif bahwa perpustakaan itu sebagai gudang buku harus segera dibuang jauh-jauh. Perpustakaan bukanlah sekedar ruang atau gedung yang di dalamnya hanya berisi tumpukan buku, apalagi bukunya sudah kuno dan ketinggalan zaman. Demikian pula pegawai yang ada di dalamnya bukanlah penjaga gudang layaknya petugas Satpam, apalagi seperti penjaga neraka yang selalu tampil garang. Pegawai perpustakaan bukanlah sisa-sisa pegawai yang memang sudah tidak cocok lagi ditempatkan di unit-unit lain. Juga perpustakaan bukanlah gudang buku yang di dalamnya sangat sepi, pengap, dan tidak ada dinamikanya.

Sebaliknya, perpustakaan haruslah tampil sebagai “Pusat Informasi dan Wacana Akademik” yang menyenangkan. Perpustakaan benar-benar seperti jantung yang tiada henti-hentinya bekerja memompa nafas segar keilmuan dalam menggerakkan roda kultur akademik. Bila kondisi tersebut sudah loyo tak bergairah lagi karena telah terjangkit virus “kelelahan akademik”, maka perpustakaan harus mampu merangsang dan membangkitkan gairah baru masyarakat akademik yang sedang loyo tersebut. Pada saat itulah, hendaknya perpustakaan menawarkan dirinya sebagai sarana rekreasi intelektual yang menyenangkan, mengantarkan  para pengguna jasa perpustakaan melanglang buana melongok jendela kehidupan dunia yang sangat indah dan luas.

Karena itu, perpustakaan menjadi sangat luas isi, daya jangkauan dan fungsinya. Perpustakaan tidak saja berisi tumpukan buku, tetapi berisi apa saja yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Tidak saja perpustakaan menjangkau lingkungan sekitar yang dekat dengan lembaganya, tetapi juga menjangkau ke seluruh dunia. Demikian pula ia tidak hanya sekedar sebagai penunjang proses belajar mengajar di dalam kelas di tiap-tiap jurusan dan program studi, lebih dari itu juga bisa berfungsi sebagai sarana rekreasi bagi para insan yang haus ilmu tatkala mereka sedang kelelahan. Melalui buku, sarana-prasarana, dan suasana perpustakaan yang menyenangkan diharapkan dapat mendorong bangkitnya wacana masyarakat akademik sebagaimana digambarkan di muka. Mereka sehari-harinya membaca buku, menulis, berdiskusi, meneliti, melahirkan karya-karya ilmiah besar untuk diabdikan kepada masyarakat luas. Dalam melakukan aktifitas tersebut, mereka merasa sangat terbantu dengan kehadiran perpustakaan. Inilah sesungguhnya yang diharapkan dari  kehadiran dan pelayanan insan-insan perpustakaan UIN Malang yang profesional.

Untuk membangun wacana akademik dan kultur masyarakat akademik sebagaimana yang diinginkan, maka secara operasional program layanan perpustakaan yang dikembangkan di UIN Malang berbentuk:

  • Memberi kemudahan kepada para pengguna jasa perpustakaan untuk dapat mengakses perpustakaan secara cepat, murah, dan berkualitas. Untuk itu, Perpustakaan UIN Malang saat ini sedang mengembangkan sistem komputerisasi dengan menggunakan program Integrated Library (InLib Versi 3.01) bekerja sama dengan Perpustakaan Universitas Brawijaya Malang. Salah satu program dalam InLib, memudahkan layanan kepada pengguna jasa perpustakaan lewat On Line Public Acces Catalog (OPAC). Dalam waktu dekat, akan dikembangkan pula program DILA (Digital library) yang dilengkapi dengan fasilitas internet untuk mempermudah layanannya. Disinilah Sumberdaya Manusia (SDM)  perpustakaan yang handal memainkan peranan yang penting.

  • Menawarkan kartu SAKTI yang memungkinkan setiap pengguna jasa perpustakaan (mahasiswa, dosen, dan karyawan) dapat masuk ke berbagai perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia yang tergabung dalam FKP2T (Forum Kerjasama Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri).

  • Setiap tiga bulan sekali mengadakan bedah buku bekerja sama dengan penerbit buku yang handal.

  • Setiap setahun sekali mengadakan seminar perpustakaan dengan tema-tema aktual yang memungkinkan peserta dari berbagai disiplin ilmu lain tertarik untuk mengikutinya.

  • Selalu menata etalase buku-buku baru setiap 1 minggu sekali untuk diganti dengan koleksi buku-buku terbaru yang marketable.

  • Merubah aturan pinjam buku bagi dosen dan asisten dosen yang selama ini dibeda-bedakan. Setiap dosen dan asisiten dosen boleh meminjam buku sebanyak 10 eksamplar dengan waktu pengembalian yang dipercepat (dua minggu, bila ingin diperpanjang boleh di tambah satu minggu lagi). Hal ini didasari atas pertimbangan bahwa: (1) sebagai dosen muda, tentu merekalah yang lebih banyak membutuhkan leteratur untuk memperkaya khazanah keilmuannya, (2) Lama waktu yang dibutuhkan untuk menyusun paper, makalah, atau bahan persiapan mengajar diperkirakan cukup antara 2 – 3 minggu, (3) Lama waktu tersebut dibatasi 2 – 3 minggu agar perputaran buku bisa lebih cepat mengalir dan dapat digunakan oleh pengguna jasa perpustakaan lain yang membutuhkan.

  • Setiap tiga bulan sekali mengadakan audiensi dengan para pengguna jasa perpustakaan. Hal ini sesuai dengan tradisi perpustakaan selama ini yang patut dilestarikan. Tradisi ini dikembangkan dengan maksud sebagai sarana silaturrakhim antara anggota dengan para pengelola, disamping untuk mencari masukan-masukan berharga demi perbaikan pelayanan perpustakaan di masa depan.

  • Senantiasa melakukan pengadaan perpustakaan sendiri lewat kumpulan tulisan dari berbagai koran, tabloid, majalah, makalah-makalah seminar nasional/internasional, teks pidato pengukuhan guru besar, ringkasan skripsi/tesis/disertasi yang bermutu, ringkasan hasil-hasil penelitian, dan abstrarksi buku-buku atau kitab-kitab klasik dan kontemporer yang selanjutnya didokumentasikan dalam bentuk bendelan tulisan maupun CD.

  • Mengadakan studi banding ke perpustakaan-perpustakaan yang ada di perguruan tinggi lain yang dipandang dapat menjadi inspirasi bagi kemajuan pelayanan perpustakaan UIN Malang ke depan.

  • Sebagai pusat informasi dan wacana akademik, perpustakaan UIN Malang memandang sangat penting untuk mengembangkan pelayanan perpustakaan dengan sentuhan manajemen marketing for library.

Personalia dan Pengguna Perpustakaan UIN Malang
Perpustakaan UIN Malang saat ini memiliki personalia sebanyak 17 orang ditambah seorang kepala perpustakaan. Dari ke-17 personalia tersebut, 10 orang diantaranya memiliki kualifikasi ijazah S1, sedangkan 6 orang lainnya berijazah SLTA dan 1 orang D3 perpustakaan. Dari ke-17 tenaga tersebut, sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (11 orang), sedangkan sisanya berjenis kelamin perempuan (5 orang).

Seluruh tenaga perpustakaan tersebut harus melayani mahasiswa yang saat ini (tahun akademik 2000/2001 berjumlah 3.558 dengan dosen/asisten dosen tetap (PNS) sebanyak 139 orang. Berdasarkan catatan dalam daftar hadir pengunjung, perpustakaan UIN Malang rata-rata setiap hari dihadiri oleh 750 – 1.000 pengguna jasa perpustakaan. Pada umumnya mereka terdiri dari dosen dan mahasiswa UIN Malang sendiri, disamping ada mahasiswa luar yang menjadi anggota perpustakaan. Mahasiswa luar tersebut sebagian besar berasal dari perguruan-perguruan tinggi Islam (PTAIS) yang ada di sekitar Malang, dan sebagian yang lain berasal dari luar Malang (Lumajang, Probolinggo, Jember, Situbondo, Jombang, Kediri, Blitar, Tulungagung, Gresik, Surabaya, dll).

Disamping itu, ada juga mahasiswa luar dari perguruan tinggi umum dan perguruan tinggi non Islam di Malang dan sekitarnya yang ikut menggunakan layanan terbuka (Open Acces) perpustakaan UIN Malang.

Sarana Prasarana dan SDM Yang Hendak dikembangkan
Untuk menarik minat dan meningkatkan layanan perpustakaan, maka performance sarana fisik gedung perpustakaan UIN Malang dan sarana prasarana penunjang lain hendaknya mememenuhi kriteria indah, aman, dan fungsional. Disamping itu, dibutuhkan pengembangan Sumberdaya Manusia (SDM) tenaga pustakawan yang handal. Untuk itu dikembangkanlah program-program perpustakaan sbb:

Pengembangan Sarana Fisik

  • Membangun tangga baru (beratap) di luar gedung perpustakaan (bagian depan sebelah barat) dengan cara menjebol jendela di lt 2 untuk pintu keluar. Hal ini berfungsi untuk mempermudah bagian shelving yang selama ini terasa memberatkan, karena harus mengangkat buku dalam jumlah banyak dari lantai 1 ke lantai 2 yang selanjutnya ditata di rak koleksi umum dan koleksi Islam. Untuk itu, bagian sirkulasi di lantai 1 yang menerima pengembalian buku harus dinaikkan di lt. 2.

  • Perbaikan sebagian lantai dalam dan luar yang saat ini retak dan ambles, hal ini sangat mengkhawatirkan bagi kelancaran layanan.

  • Perlu dibuatkan taman mini di depan gedung perpustakaan yang dilengkapi dengan tempat duduk permanen untuk baca buku secara bebas. Selama ini taman tersebut tidak fungsional

  • Perlu merenovasi tempat cuci tangan dan tempat kencing berdiri (toilet) yang selama ini tidak fungsional untuk diganti dengan tempat shalat (bentuknya memanjang).

  • Pengecatan gedung perpustakaan yang saat ini kondisinya perlu pembaharuan.

  • Untuk memperindah gedung, dekorasi ruang perlu diubah dan dilengkapi dengan hiasan bunga, relief, dan semacamnya.

  • Perlu pajangan tulisan indah berisi moto yang mencerminkan kultur masyarakat akademik yang hendak dibangun, misalnya: budayakan baca buku, bangkitkan wacana akademik

  • Perlu dibuatkan korden untuk seluruh kaca jendela di lantai I dan II.

Pengembangan Sarana Mebel

  • Pembuatan meja counter, untuk mengganti pembatas tidak permanen saat ini yang dirasakan tidak aman di bagian penjaga pintu masuk, pintu keluar, dan bagian sirkulasi.

  • Perlu dibuatkan dua meja bundar lengkap dengan kursi secara melingkar. Satu set untuk ruang rapat/diskusi kecil staf perpustakaan, satu set untuk ruang baca referensi pengguna.

  • Penambahan 6 buah rak baru, karena selama ini sudah tidak muat lagi.

  • Pembuatan almari arsip, selama ini belum punya dan arsip belum tertata rapi

  • Perlu penambahan alat penerang di lantai II yang saat ini kurang memadai

  • Perlu penambahan kipas angin di lantai II yang saat ini kurang memadai

  • Penggantian karpet yang sat ini lusuh, 32 m untuk lt. 2. Dan penambahan karpet 30 m untuk ruang pimpinan dan staf di lt. I.

Pengembangan Sarana Komputer dan Elektronik
1. Penambahan seperangkat komputer dengan rincian :

  • Untuk Internet : Komputer Pentium III 500 Hertz, UPS 600 watt, Stavolt Regulator Merk Matsunaga, Modem 90 Kbps, Printer BJC 1000 SP.

  • Untuk Sirkulasi dan Cetak Barcode : Komputer Pentium II 400 Hertz, UPS 600 watt, Stavolt Regulator Merk Matsunaga, Barcode Reader.

  • Untuk Pelayanan Koleksi Tersier (Terjemahan Kitab-kitab Klasik dan Kontemporer) : Komputer Pentium II 400 Hertz, UPS 600 watt, Stavolt Regulator Merk Matsunaga, Printer BJC 1000 SP

  • Untuk Rental Computer : Komputer Pentium II 400 Hertz, UPS 600 watt, Stavolt Regulator Merk Matsunaga, 4. Printer BJC 1000 SP, Pengadaan Audio Visual untuk meningkatkan mutu pelayanan referensi

2. Pemasangan sambungan telepon baru, telepon, dan box untuk fasilitas internet seharga Rp. 750.000,-
3. Pengadaan soft ware baru DILA (Digital Library) seharga Rp. 7.000.000,-
4. Untuk pengamanan, perlu diadakan Scurity Gate. Sebab Perpustakaan STAIN Malang menerapkan model layanan terbuka (open acces) yang rentan terjadinya kerusakan dan kehilangan.
5. Seperangkat sound system untuk menunjang sistim informasi perpustakaan, mempermudah akses informasi ke pengguna.
6. Pengadaan Satelit Decoder Receiver (seharga sekitar 2 juta rupiah) untuk alat pandang dengar bertempat di Lt. 1 untuk mendukung ruang referensi

Pengembangan SDM

  • Mengirim 2 tenaga perpustakaan untuk studi lanjut tingkat S1 perpustakaan (Sarjana Ilmu Perpustakaan), dan 1 orang untuk menempuh pendidikan setingkat S2 perpustakaan (Magister Library).

  • Mengadakan Studi Banding ke UPT Perpustakaan Universitas Indonesia, UPT Perpustakaan Universitas Parahyangan, UPT Perpustakaan Universitas Gadjah Mada, dan UPT Perpustakaan IPB Bogor.
    Mengadakan Pelatihan Manajemen Pelayanan Keperpustakaan

1.  Profil Perpustakaan UIN Malang

Bangunan gedung perpustakaan UIN Malang seluas 900 m2 saat ini, terletak di tengah-tengah lokasi kampus yang sejuk dan strategis. Perpustakaan ini melayani pengguna secara terbuka (layanan terbuka penuh), para pengguna dapat secara langsung memilih dan mencari sendiri koleksi yang diinginkan pada rak buku yang tersedia. Bahkan sejak tahun akademik 2000/2001 perpustakaan UIN Malang telah menerapkan sistem Integrated Library (Inlib Ver. 3.01) yang didukung 8 buah sarana komputer. Salah satu modul yang ditawarkan dalam sistem tersebut, adalah apa yang disebut dengan Open Public Access Catalogue (OPAC), yakni pengguna dapat dengan mudah, cepat dan akurat mencari koleksi buku atau sumber-sumber referensi yang dibutuhkan melalui komputer dan pelayanan semi otomasi.
Hingga saat ini, terdapat lebih dari 47.838 koleksi perpustakaan UIN Malang, baik koleksi umum maupun keislaman. Koleksi tersebut diperkaya pula dengan jurnal-jurnal dari dalam maupun luar negeri. Terdapat pula ribuan koleksi referensi pilihan seperti skripsi, tesis, ensiklopedi, kitab klasik maupun kontemporer bermutu dari dalam dan luar negeri. Dan masih banyak lagi koleksi khusus seperti kumpulan hasil-hasil penelitian, pidato ilmiah, dan kliping artikel pilihan. Dalam rencana strategis (Renstra) pengembangan perpustakaan 10 tahun ke depan, direncanakan memiliki 150.000 koleksi.

Dengan layanan yang ramah dan menyenangkan, para pengguna jasa perpustakaan hingga saat ini dilayani oleh 17 tenaga perpustakaan, dan dipimpin oleh seorang kepala perpustakaan, jadi kesemuanya berjumlah 18 orang. Dari ke-18 orang tenaga tersebut, 1 orang diantaranya memiliki kualifikasi ijazah S2, 11 orang S1 sedangkan 6 orang lainnya berijazah SLTA dan 1 orang D3 perpustakaan.
Seluruh tenaga perpustakaan di atas harus melayani mahasiswa yang saat ini (tahun akademik 2001/2002 sebanyak 5100 orang) dengan dosen/asisten dosen tetap (PNS) sebanyak 152 orang. Berdasarkan catatan dalam daftar hadir pengunjung, perpustakaan UIN Malang rata-rata setiap hari dihadiri oleh 750-1.000 pengunjung. Pada umumnya mereka terdiri dari dosen dan mahasiswa UIN Malang sendiri, disamping ada mahasiswa luar yang menjadi anggota perpustakaan. Mahasiswa luar tersebut sebagian besar berasal dari perguruan-perguruan tinggi negeri dan swasta yang ada di sekitar Malang, dan sebagian yang lain berasal dari luar Malang seperti: Probolinggo, Jember, Tulungagung, Kediri, Surabaya dll.

2.  Rencana Program Pengembangan
Untuk mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan, maka perpustakaan UIN Malang menyusun program pengembangan 10 tahun ke depan dengan skala prioritas sebagai berikut:
1. Pengembangan Full Otomasi perpustakaan, audio visual, dan internet.
2. Penambahan 150.000 koleksi perpustakaan.
3. Penambahan dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).
4. Pengadaan Security Gate (alat pengaman) perpustakaan.
5. Pembangunan gedung baru perpustakaan
6. Penambahan sarana dan prasarana meubelair dan dekorasi ruang perpustakaan.
7. Pengadaan WARINTEK.
8. Pengadaan mesin reproduksi dan percetakan.
9. Pengadaan kantin perpustakaan

Adapun pada tahun 2001/2002 s.d 2002/2003, perpustakaan UIN Malang menitik beratkan terealisasinya program, pertama penerapan otomasi/aplikasi teknologi Informasi secara penuh (layanan perpustakaan digital, audio visual dan Internet) dan kedua melengkapi koleksi perpustakaan dengan koleksi bahan pustaka yang relevan dengan kebutuhan pemakai, ketiga pengembangan kualitas SDM, keempat menumbuh-kembangkan minat baca di kalangan pemakainya.

Untuk program otomasi perpustakaan sejak tahun 2001/2002 mulai diterapkan, meskipun masih perlu penambahan hardware dan software baru yang lebih canggih dan compatible. Sedang untuk penambahan buku, diharapkan untuk tahun 2002/2003 dapat terealisasikan. Selain itu secara bertahap akan dilakukan pengiriman staf perpustakaan untuk magang dan melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi, serta mengadakan lokakarya/seminar bidang perpustakaan dan informasi. Untuk menumbuh-kembangkan minat baca di kalangan pemakainya akan diupayakan terus dengan melengkapi koleksi, menciptakan perpustakaan dalam suasana yang tenang dan nyaman, memberikan pelayanan prima dan memberi kemudahan prosedur yang diperlakukan di perpustakaan

perpustatkaan binus

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

I. Sejarah Singkat

Pengembangan perpustakaan Universitas Bina Nusantara telah dirintis sejak tahun

1982. Perpustakaan mengalami beberapa kali pergantian nama seiring dengan pergantian

nama perguruan tinggi itu sendiri. Nama pertama yang dipakai adalah Perpustakaan

Akademik Teknik Komputer (ATK) dan menjadi Perpustakaan Sekolah Tinggi Manajemen

Informatika dan Komputer (STMIK) Bina Nusantara pada tahun 1986. Tahun 1996

digunakan nama Perpustakaan Universitas Bina Nusantara. Saat ini nama yang digunakan

adalah Library and Knowledge Center (LKC) Universitas Bina Nusantara. Sebelumnya

Perpustakaan terletak di Kampus Syahdan, Palmerah, Jakarta Barat. Sejak bulan November

1998 perpustakaan pindah menempati gedung baru di Kampus Anggrek, Jl. Kebon Jeruk

Raya No. 27 Jakarta Barat. Lokasi perpustakaan terletak di lantai III, IV, dan V dengan luas

±1268 cm

 

 

 

2

.

II. Data Koleksi

Data koleksi buku dan koleksi multimedia yang terdapat di LKC Binus, terutama

untuk Kampus Anggrek dapat dilihat pada tabel berikut :

Lokasi

Anggrek JWC Kijang Total

Kegiatan

Jdl Eks Jdl Eks Jdl Eks Jdl Eks

Buku baru Maret 109 130 16 55 65 71 190 256

Jumlah buku s.d.

bulan Maret 2008

11.749 32.474 3.164 6.043 3.244 4.581 18.157 43.098

Pengolahan koleksi multimedia bulan Maret 08 (Kampus Anggrek)

CD/VCD 4 4

DVD 5 5

Kaset 3 2

Jumlah

koleksi Multimedia

sampai bulan Maret

2008

2.727 794

Untuk data koleksi lainnya, dapat dilihat pada tabel berikut :

Lokasi

Kegiatan Anggrek JWC

Judul Eks Judul Eks

Total

Jdl*

Total

Eks*

Majalah Beli 14 30 - - 14 30

Majalah Hadiah 3 5 - - 3 5

Jurnal Beli 1 1 - - 1 1

Jurnal Hadiah 8 11 - - 8 11

Surat Kabar 4 11 - - 4 11

Skripsi 737 - - - 737 -

*

 

 

 

Data Maret 2008

III. Sarana Temu Kembali

Layanan perpustakaan mulai terkomputerisasi mulai tahun 1999 dengan sistem

informasi yang kemudian diberi nama Sistem Informasi Perpustakaan (SIPus). SIPus ini

meliputi layanan bagian pengadaan, pengolahan, serta sirkulasi. Sistem layanan juga sudah

terbuka (

 

 

 

open access sevices

), sehingga mahasiswa, dosen, dan karyawan dapat mencari buku

sendiri di rak. Tahun 2002 pemanfaatan TI di perpustakaan mengarah ke fasilitas berbasis

Web yang mencakup: sistem informasi manajemen untuk menunjang kegiatan operasional

dan pelaporan; otomasi perpustakaan untuk menunjang proses pengadaan, pengolahan atau

katalogisasi dan sirkulasi; serta sistem pengolahan informasi digital untuk mengolah

pengetahuan, berita, berikut fasilitas aksesnya. SIPus yang baru saat ini sudah dapat

melayani penggunanya yang ingin menelusur, memesan (

 

 

 

booking

), dan memperpanjang

pinjaman buku melalui web. Komputer kerja yang digunakan berjumlah 22 komputer dan

untuk OPAC 11 komputer. Untuk software yang digunakan :

1. Sebelum tahun 1998 menggunakan Foxpro

2. Tahun 1998 Visual Foxpro 6

3. Tahun 2001 pengembangan dengan Web Base: SQL Server 2000, Visual Basic, ASP

untuk web-nya.

Semua administrasi yang berhubungan dengan koleksi dilakukan dengan otomasi

dan semua data koleksi yang terdapat pada setiap perpustakaan di lingkungan Binus

terintegrasi dalam sebuah sistem.

 

 

a. Standard Katalogisasi dan Klasifikasi

Katalogisasi deskripsi di perpustakaan Universitas Bina Nusantara menggunakan

standard AACR 2

 

 

 

(Anglo American Catalogue Rules 2nd edition)

. Untuk katalogisasi subjek

berpedoman pada:

1.

 

 

 

Dewey Decimal Classification

(DDC) edisi 21 dan 22.

 

2.

 

 

 

Library of Congress Online Catalog yang diakses melalui www.catalog.log.gov

.

Kartu katalog dan penempatan rak untuk katalog sudah tidak digunakan lagi. Format

penyajian katalog adalah secara

 

 

 

online/OPAC

(Online Public Access Catalog).

b. Pembagian Database

Database koleksi yang dapat diakses lewat program SIPus adalah :

1. Text Book

2. Case Study

3. Multimedia Collection

4. Thesis Collection for S1

5. Thesis Collection for S2

6. Disertation Collection

7. Clipping

8. EJournal

9. ERiset

c. Penelusuran Informasi pada Program SIPus

Akses informasi melalui program SIPus dapat dilakukan dengan mengunjungi situs

LKC Binus yaitu

 

 

 

http://library.binus.ac.id

. Cara penelusuran katalog buku dapat dilihat

pada keterangan berikut ini.

1) Membuka situs LKC Binus, seperti pada tampilan di bawah ini :

2) Memasukkan kata kunci dari informasi yang akan dicari dan memilih format

informasi yang diinginkan, seperti terlihat pada tampilan kolom ‘SEARCH’ di bagian

kanan :

Kata kunci dari koleksi yang dicari diketik pada kolom

 

 

 

Search

dan memilih salah satu

tipe database koleksi yang tersedia dibawahnya, lalu klik SEARCH. Tipe database yang

tersedia adalah

 

 

 

Text Book, Case Study, Multimedia Collection, Thesis Collection for S1, Thesis

 

Collection for S2, Disertation Collection, Clipping, Ejournal, dan Eriset.

 

 

 

Contohnya dengan

menggunakan kata kunci ‘manajemen informasi’ dan tipe database yang digunakan adalah

‘Text Book’.

3) Tampilan hasil penelusurannya adalah :

Dalam database

 

 

 

text book

terdapat satu cantuman yang berisi istilah ‘manajemen

informasi’. Dari hasil penelusuran dapat diketahui nomor registrasinya (Bibli), kode panggil,

judul, pengarang, penerbit, tahun terbit, ISBN, jumlah dan letak koleksi yang berada di

kampus Anggrek.

Penelusuran juga dapat dilakukan dengan ‘Advance Search’ untuk penemuan

informasi. Caranya adalah :

1) Klik ‘Advance Search’ dari kolom sebelah kanan, maka tampilan yang muncul dapat

dilihat pada tampilan di bawah ini :

Penelusuran menggunakan fasilitas ini memudahkan pengguna untuk cepat

menemukan data/koleksi yang ingin ditemukan karena disediakan pilihan penelusuran

melalui beberapa pendekatan, yaitu

 

 

 

title (judul), author (pengarang), publisher

(penerbit),

kode mata kuliah, nama mata kuliah, dan ISBN.

2) Isi kolom-kolom kosong yang tersedia, klik ‘Submit’ maka akan muncul hasil

penelusurannya.

Dalam situs ini juga terdapat daftar koleksi digital yang bisa diakses

 

 

 

full text

dalam

format PDF, yaitu E-Thesis S1, E-Thesis S2, E-Research, E-Book, dan E-Journal. Fasilitas ini

hanya bisa digunakan apabila pengguna memiliki ID dan Password khusus (

 

 

 

log-in

dengan

NIM/NIP/Kode Dosen serta PIN yang telah dimiliki). Contoh tampilan untuk penelusuran

ke koleksi digital dapat dilihat pada tampilan berikut :

Pada tampilan, pengguna memasukkan kata kunci dari koleksi yang ingin

ditemukan, memilih tipe database-nya. Setelah muncul judul yang dimaksudkan, pengguna

meng-klik tulisan

 

 

 

PDF

yang berwarna merah. Selanjutnya format PDF dari koleksi yang

dimaksud akan ditampilkan.

Selain penelusuran online lewat program SIPus, pengguna juga bisa memanfaatkan

layanan Jasa Penelusuran Informasi (JPI). Perpustakaan akan membantu pengguna untuk

memperoleh informasi, baik berupa data bibliografis maupun artikel

 

 

 

full text

dengan topik

tertentu yang diperoleh dari berbagai sumber informasi yang ada. Petugas Referensi akan

memandu pengguna dalam proses penelusuran tersebut dengan terlebih dahulu mengisi

Form Permintaan Jasa Penelusuran Informasi, seperti berikut:

 

 

Formulir Permintaan Jasa Penelusuran Informasi

I. Data Pengguna

 

*

 

 

 

NIM/NIP/Kode Dosen

 

:

 

 

 

(contoh: NIM=9999…, Dosen=D…)

 

*

 

 

 

Nama

:

 

 

 

*

 

 

 

Email

 

:

 

 

 

(contoh: myname@myhost.com)

Telepon/HP

:

II. Yang Dicari

 

a. Subjek penelusuran

 

 

 

*

:

 

b. Kata kunci/istilah penting

 

 

 

*

:

III. Penggunaan Hasil Penelusuran

Untuk Penelitian

Karangan Ilmiah

Skripsi/Thesis/Disertasi

Karangan Populer

Lain-lain :

IV. Batasan Bahasa

Bahasa Indonesia

Bahasa Inggris

V. Batasan Geografi

Indonesia

International

Lain-lain :

VI. Macam Dokumen yang diinginkan

Artikel

Skripsi/Thesis/Disertasi

Monografi (buku)

Undang-undang

Lain-lain :

VII. Bentuk Dokumen

Tercetak

Elektronik

VIII. Waktu Penggunaan Dokumen Hasil Penelusuran

Maksimal satu minggu sejak formulir ini diterima

Dua minggu sejak formulir ini diterima

Lain-lain :

 

*

 

 

harus diisi

Submit

d. Sistem Penempatan Koleksi

Penempatan koleksi di rak dilakukan melalui 2 sistem, yaitu :

1) Penempatan tetap

Koleksi buku umum, referensi dan tandon disusun berdasarkan kelas (subjek).

2) Penempatan relatif

Koleksi surat kabar, jurnal dan koleksi-koleksi audio visual (CD, VCD, kaset) disusun

berdasarkan urutan penerimaan.

Kedua sistem penempatan ini dilakukan untuk kemudahan dalam temu balik

informasi dilihat dari format penyimpanan informasi.

ANALISIS SARANA TEMU KEMBALI

Sarana temu kembali merupakan alat/sistem yang digunakan dalam melakukan

penelusuran koleksi perpustakaan untuk memberikan kemudahan dalam mengidentifikasi

koleksi perpustakaan dari berbagai pendekatan penelusuran.

Salah satu sarana temu kembali yang digunakan adalah sistem katalog. Menurut

Taylor (2004 : 8) katalog memiliki tiga fungsi, yaitu :

- Identifikasi

 

 

 

(identifying or finding function)

 

- Kolokasi

 

 

 

(colocating or gathering function)

 

- Evaluasi

 

 

 

(evaluating or selecting function)

Katalog online (OPAC) Perpustakaan Universitas Bina Nusantara memfasilitasi

pengguna dalam menemukan koleksi dengan cepat karena pengguna bisa mengidentifikasi

koleksi melalui beberapa pendekatan seperti pendekatan melalui judul, pengarang, penerbit,

dan sebagainya. OPAC yang tersedia dioptimalkan pemanfaatannya, karena semua data

katalog disimpan dalam bentuk elektronik untuk dapat membantu pengguna dalam

membuat pilihan.

Kriteria analisa sarana temu kembali dengan sistem katalog menurut Taylor (2004 :

9), adalah :

1.

 

 

 

A catalog should be flexible and up to date.

Katalog perpustakaan sewaktu-waktu (pada saat dibutuhkan) harus bisa diubah

(ditambah atau dikeluarkan dari daftar) sesuai dengan keadaan koleksi yang ada di

perpustakaan.

2.

 

 

 

A catalog should be constructed so that all entries can be quickly and easily found.

Dalam katalog online, instruksi dalam tampilan harus sederhana dan jelas sehingga

memudahkan pengguna menelusur dan menemukan informasi yang dicari.

3.

 

 

 

A catalog should be economically prepared and maintained.

Pembuatan dan pemeliharaan sarana temu kembali harus dapat menghemat biaya.

Berdasarkan kriteria diatas, analisa terhadap OPAC LKC Binus dapat diuraikan

sebagai berikut :

 

·

 

 

 

Keberadaan dan keadaan katalog perpustakaan dapat sewaktu-waktu diubah sesuai

dengan keadaan koleksi. Sistem otomasi terintegrasi yang telah digunakan untuk semua

layanan termasuk pengatalogan, memberi kemudahan dalam melakukan perubahan

terhadap katalog. Proses pengatalogan (deskipsi bibliografi) otomatis dilakukan oleh staf

pengadaan pada saat entri data ke

 

 

 

form

data buku. Sedangkan untuk analisis subjek,

 

dilakukan oleh staf pengolahan dengan

 

 

 

form

yang sama.

 

·

 

 

 

Tampilan depan menuju halaman ini dapat terlihat jelas. Pengguna dapat langsung

 

meng-klik

 

 

 

icon

yang disediakan untuk melihat informasi yang dicari. Data dalam katalog

online yang disediakan juga telah mencantumkan lokasi dan jumlah koleksi yang ada,

sehingga pengguna bisa lebih cepat menemukan koleksi. Khusus untuk

 

 

 

civitas academica

 

(mahasiswa, dosen, karyaman) bisa

 

 

 

log-in dengan ID khusus untuk akses full text

dari

 

koleksi dalam bentuk digital. Artinya, pengguna umum (selain

 

 

 

civitas academica

Binus)

 

tidak dapat mengakses informasi dalam koleksi digital dengn

 

 

 

full text.

Tantangan untuk

 

pengembangan

 

 

 

digital library

Binus untuk masa yang akan datang adalah menyediakan

 

koleksi-koleksi digital yang dapat diakses

 

 

 

full text

oleh pengguna umum, walaupun tidak

 

semuanya mungkin bisa sebagian seperti

 

 

 

e-book atau e-journal.

Hal ini dimaksudkan

untuk menambah referensi ilmiah bagi pencari informasi.

 

 

 

·

 

 

 

Pembuatan dan pemeliharaan sarana temu kembali LKC Binus dikelola oleh sendiri oleh

Direktorat Pengembangan Teknologi Informasi UBiNus, tidak dialihkan ke vendor.

Tahap pengembangan modul ditangani oleh Unit Pengembangan TI dan setelah

beroperasi ditangani oleh Unit Operasional TI. Dalam pengembangan sistem

perpustakaan, staf pengajar UBiNus juga diikutsertakan. Dalam hal ini, untuk

pengembangan sarana temu kembali LKC Binus tidak menemukan kesulitan termasuk

untuk biaya pembuatan dan pemeliharaan. Apabila ada pengembangan sistem atau ada

sistem yang

 

 

 

error

, bisa langsung ditangani cepat dengan menghemat biaya dan waktu.

Dari pola telusurnya, penelusuran dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu:

1.

 

 

 

Telusur dokumen

: penelusuran dimulai dengan identifikasi dokumen dan/atau sumber,

baru dari sini dihasilkan informasi aktual.

Untuk pola ini, pengguna langsung menuju ke rak koleksi dan telah mengetahui sistem

penempatan koleksi yang digunakan LKC Binus menggunakan sistem berkelas.

Pengguna yang mempunyai kata kunci untuk informasi yang dicari, langsung menuju

rak koleksi.

2.

 

 

 

Telusur informasi

: penelusuran dimulai dengan informasi yang diperoleh dari bank data,

kumpulan data, atau perorangan.

Penelusuran ini dilakukan lewat katalog online dan jasa penelusuran informasi. Hasilnya

pengguna dapat menemukan informasi digital yang ada, atau menemukan daftar

literatur secara online, baru setelah itu menuju ke rak koleksi untuk mendapatkan

literatur yang dibutuhkan. Dalam katalog online LKC Binus sekaligus sudah

dicantumkan lokasi literatur dan jumlah literatur yang tersedia.

Dapat diketahui bahwa, LKC Binus melakukan kedua pola penelusuran tersebut untuk

memudahkan pengguna menemukan informasi. Pengguna dapat memilih sendiri cara mana

yang lebih efektif dan efisien baginya dalam menemukan literatur maupun informasi,

khususnya yang berasal dari buku teks.

Pada prinsipnya penelusuran informasi merupakan sebuah proses

pengidentifikasian, pencarian, penyediaan dan pemberian informasi atas kebutuhan atau

permintaan pemakai unit informasi dan atau perpustakaan. Keberhasilan sebuah

penelusuran informasi ditentukan oleh beberapa hal:

1. Kejelasan dalam identifikasi kebutuhan informasi yang disampaikan oleh pemakai.

2. Ketepatan dalam menggunakan berbagai alat/sumber penelusuran.

3. Ketepatan dan kecermatan dalam melaksanakan dan menggunakan prosedur

penelusuran.

4. Kecermatan dalam menentukan analisa hasil penelusuran informasi.

5. Ketekunan dalam menggunakan berbagai cara dan teknik penelusuran.

Untuk itu, keberhasilan sarana temu kembali ditentukan oleh semua pihak yang

terlibat didalamnya yaitu pustakawan, pengelola sistem temu kembali (dalam hal ini staf

teknologi informasi), dan pengguna sarana temu balik informasi.

 

 

PENUTUP

Perkembangan teknologi informasi khususnya komputer telah membawa

kemudahan tersendiri dalam proses penelusuran informasi. Pengguna dan staf

perpustakaan mempunyai kesempatan lebih untuk mendapatkan informasi baik berupa

informasi tercetak maupun digital. Apalagi dengan adanya internet, pemakai dan staf

perpustakaan dimanjakan untuk meraih lebih besar lagi informasi yang dibutuhkan dari

berbagai unit informasi/perpustakaan di seluruh dunia.

DAFTAR PUSTAKA

 

Surachman, Arief. 2007.

 

 

 

Penelusuran Informasi.

Materi Pelatihan PUSDOKINFO, UPU

Perpustakaan UGM Yogyakarta 2007.

 

 

http://arifs.staff.ugm.ac.id/mypaper/penelusuran_informasi.doc

Taylor, Arlene. G. 2004.

 

 

 

Winars Introduction to Cataloging and Classification rev 9th ed.

Englewood : Library Unlimited.

 

 

kemampuan sdm perpustakaan terhadap teknologi

 

 

 

 

 

Information technology is being more sophisticated. As the one of information worker, it is logically accepted that librarians make the information technology much more useful in their daily activities. If the librarians do, the application of automation system at libraries in Indonesia would not as slow as what occurred nowadays. There are six factors should be considered, i.e. the librarians attitude, the librarians capability, library application program engineering, the librarians’ credit point rules, the curriculum of librarianship education, and profession organization.

 

Kata kunci:

 

Teknologi Informasi, Sikap Pustakawan, Kemampuan Pustakawan, Program Aplikasi, Angka Kredit, Kurikulum, Organisasi Profesi

A. Pendahuluan

Ledakan informasi merupakan pertanda dari peluang dan tantangan yang akan dihadapi manusia di masa depan. Pembengkakan volume informasi yang dicetuskan, dipindahkan, dan diterima akan terus dan semakin menggelembung. Seiring dengan itu, makna informasi pun meningkat pula. Pada masa itu, manusia akan hidup dalam suatu tatanan masyarakat “baru,” yakni masyarakat informasi.

Informasi memerlukan saluran untuk berpindah. Saluran tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah saluran komunikasi. Teknologi telah siap menghadapi kebutuhan akan saluran dimaksud dengan semakin berkembangnya teknologi komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi antara pengirim dan penerima yang berjauhan dalam waktu singkat. Akibatnya, batas-batas ruang dan waktu menjadi semakin kabur.

Dalam pada itu, hasil temuan Howard Aiken yang bernama komputer semakin hari semakin canggih. Bila pada mulanya komputer berukuran besar hanya bisa digunakan sebagai alat hitung, maka sekarang komputer berukuran kecil dapat dipakai untuk berbagai-bagai keperluan. Bila pada mulanya komputer hanya bisa memindahkan informasi yang diolahnya ke media cetak atau bahkan hanya ke layar monitornya sendiri, maka sekarang komputer dapat dipakai untuk memindahkan sejumlah besar informasi menempuh jarak yang jauh dalam waktu singkat. Semua itu adalah karena kecanggihan komputer “menumpang” kecanggihan alat komunikasi.

Sementara itu, perpustakaan adalah salah satu dari lembaga-lembaga pengelola informasi, terutama informasi yang bermuatan pengetahuan. Perpustakaan, dengan demikian, merupakan salah satu sarana bagi upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Bagaimanapun, dalam era ini, pekerja informasi tidak lagi hanya pustakawan, namun juga pialang informasi, pekerja di bidang penerbitan, pangkalan data bibliografis, jasa pengindeksan khusus, manajemen media (Sulistyo-Basuki, 1997: 2). Ledakan informasi yang melibatkan seluruh infrastruktur informasi tersebut membuat pustakawan mempunyai “saingan.” Persaingan ini dapat menjadikan pustakawan tidak berarti, terlibat dalam arti tetap bertahan hidup, atau menjadi ujung tombak dalam penyebaran informasi. Akan tetapi, “kalah” atau “menang”, pustakawan mestilah berupaya melaksanakan tugasnya di bidang informasi, terutama dalam rangka menjalankan fungsi pendidikan yang melekat pada perpustakaan.

Ledakan informasi kemudian mengakibatkan pengolahan (sumber) informasi di perpustakaan

Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.1, No.2, Desember 2005

 

Ardoni: Teknologi Informasi: Kesiapan Pustakawan Memanfaatkannya USU Repository © 2006 Halaman

33

seakan-akan lamban. Sumber informasi yang semestinya dikumpulkan, diolah, disebarkan, dan dilestarikan tidak lagi hanya berbentuk media cetak atau audiovisual, melainkan bertambah dengan adanya komputer,

 

laserdisk

(LD), CD-ROM (Compact Disk Read Only Memory), VCD (Video Compact Disk), dan sebagainya (Septiyantono, 1997: 1 et seq.). Dalam penelusuran informasi muncul kebutuhan akan penambahan jumlah titik sibak (access point) selain titik sibak “konvensional,” seperti pengarang, judul, dan subjek. Untuk semua itu, perpustakaan berupaya meningkatkan kinerjanya, antara lain dengan menerapkan teknologi informasi. Pertanyaannya adalah siapkah pustakawan memanfaatkan teknologi tersebut?

B. Teknologi Informasi

Dalam The Dictionary of Computers, Information Processing and Telecommunications (Hariyadi, 1993: 253), teknologi informasi diberi batasan sebagai teknologi pengadaan, pengolahan, penyimpanan, dan penyebaran berbagai jenis informasi dengan memanfaatkan komputer dan telekomunikasi yang lahir karena “… adanya dorongan-dorongan kuat untuk menciptakan teknologi baru yang dapat mengatasi kelambatan manusia mengolah informasi…” (Pendit, 1994: 37). Kelambatan itu terasa sebab volume informasi semakin cepat membengkak. Pendit menambahkan bahwa teknologi informasi memungkinkan konsumsi informasi dalam jumlah besar dan kecepatan luar biasa. Kemampuan tersebut terutama disebabkan oleh “ujung tombak” teknologi informasi, yakni komputer.

Charles Sanders Peirce (Lubbe dan Nauta, 1992: 5-6) mengemukakan dalam filosofi “

 

triadic

“-nya (lihat Gambar 1.) bahwa teknologi informasi adalah salah satu sudut segitiga sama sisi yang melambangkan teknologi; dua sudut lainnya adalah energi dan materi. Teknologi informasi sendiri lahir sekitar 1947 ditandai dengan ditemukannya komputer sebagai komponen utamanya, setelah masa teknologi yang mengeksploitasi materi 50.000 tahun sebelum Masehi sampai abad ke-18 dan masa teknologi yang mengeksploitasi energi mulai abad ke-18 sampai 1947.

InformasiEnergiMateri

 

Simulasi/ModelAutomasiKecerdasanBuatan

Gambar 1. Filosofi Triadic Peirce

Lebih lanjut, Peirce (Lubbe dan Nauta, 1992: 6) menyatakan bahwa teknologi informasi dapat pula dilambangkan sebagai segitiga sama sisi dengan tiga titik sudutnya masing-masing automasi, simulasi/model, dan kecerdasan buatan/sistem berbasis pengetahuan (sistem pakar).

1. Automasi

Di pusat-pusat dokumentasi dan informasi (pusdokinfo), termasuk perpustakaan, automasi adalah istilah yang sering dipakai untuk menyatakan penerapan komputer untuk mengolah, menyimpan, dan menyebarkan informasi. Komputer dapat dimanfaatkan di perpustakaan dengan tersedianya perangkat lunak yang sesuai, antara lain TINLib, Inmagic, dan Datatrek (Hariyadi, 1992: 253-66). Perangkat lunak tersebut ada yang dibuat “terbuka” sehingga untuk memakainya pustakawan mesti membangun pangkalan data sendiri, dan ada pula yang dibuat secara khusus untuk perpustakaan tertentu (tailor made).

Tujuan automasi di perpustakaan adalah untuk mengatasi pekerjaan yang menumpuk, meningkatkan efisiensi, memberikan pelayanan baru serta mengadakan kerja sama dan sentralisasi (Kusumaningrum, 1998: 119). Tujuan demikian dapat dicapai dengan memanfaatkan komputer karena kemampuan komputer dalam menyimpan sejumlah besar data, dan kemampuannya dalam menggabungkan data sesuai dengan situasi serta seperangkat kondisi yang diberikan. Komputer dapat digunakan untuk melakukan pekerjaan rutin yang berulang-ulang dengan cara yang sama, seperti pembuatan daftar pengadaan bahan

Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.1, No.2, Desember 2005

 

Ardoni: Teknologi Informasi: Kesiapan Pustakawan Memanfaatkannya USU Repository © 2006 Halaman

34

pustaka (accession list), pengadministrasian peminjaman bahan pustaka, dan pencetakan katalog kartu. Jadi, dengan adanya sistem automasi diharapkan semua kegiatan rutin dan penelusuran informasi di pusdokinfo dapat berlangsung secara mudah, cepat, dan akurat (Yusuf, 1988: 56).

2. Simulasi/model

Menurut Peirce (Lubbe dan Nauta, 1992: 6) simulasi dan model berhubungan dengan karakter aktualitas dan referensial. Tujuan simulasi dan model adalah menggambarkan atau menjelaskan dunia dengan cara/gambar yang mudah dipahami. Di pusdokinfo Indonesia, simulasi dan model belum begitu banyak digunakan. Biasanya simulasi/model lebih banyak diperlukan di tempat-tempat pelatihan, misalnya pelatihan pilot pesawat terbang, pelatihan militer, dan lain-lain.

3. Kecerdasan Buatan dan Sistem Berbasis Pengetahuan

Kecerdasan buatan (artificial inteligence) adalah produk dari pemikiran bahwa komputer dapat diprogram untuk memiliki kecerdasan menyerupai manusia, seperti belajar, melakukan penalaran, adaptasi, dan mengoreksi pengetahuan yang dimilikinya (Zager & Smadi, 1992: 146). Batasan yang lebih praktis adalah kecerdasan buatan merupakan kajian tentang pemikiran atau ide yang memungkinkan komputer menjadi cerdas (Carrico; Girard; Jones, 1989: 3). Di pusdokinfo, kecerdasan buatan dapat dipakai di layanan yang membutuhkan konsultasi seperti layanan rujukan, namun produk teknologi ini belum dimanfaatkan oleh pustakawan.

C. Teknologi Informasi dan Pustakawan

Bagaimanapun, dari ketiga “titik sudut” teknologi informasi, automasi merupakan yang paling banyak kemungkinan penerapannya di pusdokinfo. Namun sampai saat ini belum ada satu pun pusdokinfo di Indonesia yang telah menerapkan automasi secara penuh. Beberapa di antara pusdokinfo memang telah memanfaatkan komputer untuk pekerjaan rutin, administrasi, atau penelusuran, akan tetapi komputer belum terpasang dalam sebuah sistem yang utuh. Sistem automasi yang utuh diartikan sebagai sebuah sistem yang merangkai secara terpasang (online) setiap jenis kegiatan di perpustakaan sehingga komputer menghasilkan informasi yang bersifat serta merta (instant information). Misalnya bila sebuah buku

 

X dipinjam dan dicatatkan ke komputer di layanan sirkulasi, maka data peminjaman tersebut diinformasikan seketika itu juga kepada pemakai yang sedang melakukan penelusuran bahwa buku X

telah berkurang jumlah eksemplarnya sebanyak satu buah. Jadi pemakai dapat memperoleh informasi tentang keberadaan sebuah buku apakah di rak atau di tangan peminjam. Sistem automasi yang utuh juga berarti bahwa data terpusat di satu tempat (file server) yang dapat dimanfaatkan melalui terminal-terminal secara serentak.

Mengacu pada pengertian sistem automasi di atas, dapat dikatakan perkembangan automasi amat lamban dibandingkan perkembangan teknologi informasi. Lambannya perkembangan automasi di pusdokinfo Indonesia cukup mengherankan karena tidak sedikit pusdokinfo yang mampu mengadakan perangkat keras komputer. Dalam hal perangkat lunak, di pasaran berbagai program aplikasi untuk pusdokinfo telah tersedia. Begitu pula, pelatihan-pelatihan di bidang automasi pun telah sering digunakan. Pustakawan-pustakawan seakan-akan akrab dengan kata-kata automasi, CDS/ISIS, pangkalan data, internet, dan kata-kata lain yang mencerminkan bahwa pustakawan “kenal baik” dengan automasi. Lalu, mengapa perkembangan automasi masih tertatih-tatih?

Menurut Rouse (Kusumaningrum, 1998: 119) keberhasilan inovasi terfokus pada faktor manusia yang berkenaan dengan nilai, persepsi, dan keseimbangan manusia yang terlibat dalam proses inovasi itu. Kalau begitu, keberhasilan penerapan teknologi informasi atau lebih khusus automasi lebih banyak tergantung pada manusia dan bukan pada perangkat keras atau perangkat lunak. Artinya pula, untuk automasi tidaklah mesti menggunakan perangkat merk tertentu atau perangkat lunak tertentu karena kinerja sistem berbantuan komputer ini lebih dipengaruhi oleh manusia pengguna sistem tersebut.

1. Sikap Pustakawan

Sehubungan faktor manusia, ternyata terdapat dua kelompok pustakawan yang dibagi berdasarkan sikapnya terhadap sistem automasi (Bichteler, 1987: 282). Kelompok pertama adalah pustakawan-pustakawan yang menerima

Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.1, No.2, Desember 2005

 

Ardoni: Teknologi Informasi: Kesiapan Pustakawan Memanfaatkannya USU Repository © 2006 Halaman

35

sistem automasi secara antusias dan memperlihatkan minat mereka dengan mempelajari sistem dan terlibat dalam program-program pelatihan. Kelompok kedua adalah pustakawan-pustakawan yang menolak sistem automasi, biasanya pustakawan-pustakawan yang lebih senior. Anggota kelompok ini tidak mempercayai “benda tak dikenal” tersebut dan berusaha menghindari benda itu. Mereka terbelenggu oleh perasaan khawatir dan lebih tertarik pada sistem yang konvensional. Mereka juga khawatir akan kehilangan pekerjaan karena pekerjaan tersebut digantikan oleh komputer.

Sikap kelompok yang menolak sistem automasi demikian barangkali dapat “dipahami” karena, bagaimanapun, penerapan komputer di pusdokinfo sedikit banyaknya akan menyebabkan perubahan pada sistem dan prosedur kerja. Tentunya tidak semua orang “diuntungkan” oleh perubahan tersebut. Orang-orang yang merasa tidak mampu menggunakan komputer akan merasa cemas karena posisinya mungkin akan digantikan oleh orang lain yang bisa mengoperasikan komputer. Demikian juga, beberapa kebiasaan dalam bekerja tentunya perlu berubah pula dan tidak semua orang dapat mengubah kebiasaannya.

Salah satu cara mengubah sikap negatif pustakawan yang menolak sistem automasi adalah dengan melibatkan pustakawan dalam pembangunan sistem tersebut sejak awal. Dengan demikian, pustakawan bisa meyakinkan dirinya bahwa dia tidak akan ditinggalkan atau digantikan oleh komputer. Sekaligus, pustakawan akan mengetahui hal-hal yang dibutuhkan dalam lingkungan yang terautomasi sehingga dapat menyiapkan dirinya agar tetap terlibat di dalam sistem tersebut. Keterlibatan pustakawan dalam proses perencanaan maupun penerapan sistem automasi juga akan membentuk cara pandang pustakawan yang positif tentang sistem automasi.

Perubahan antara sistem manual ke sistem berbantuan komputer juga perlu dilakukan secara bertahap. Bila pustakawan biasanya membuat konsep katalog, maka secara berangsur-angsur pustakawan diminta untuk memindahkan data bibliografis ke lembar kerja berupa formulir yang mirip dengan lembar kerja di layar monitor komputer nantinya. Perubahan secara bertahap tentunya tidak akan membuat pustakawan

 

shock

dan tanpa disadarinya telah bekerja di dalam sistem “automasi” tanpa komputer. Pada gilirannya, komputer dapat diperlakukan sebagai pengganti pena dan kertas dengan cara dan prosedur kerja yang tetap.

2. Kemampuan Pustakawan

Bagaimanapun, kemampuan menggunakan komputer para pustakawan yang belum merata kalau tidak dapat disebut rendah. Tambahan pula, dengan digunakannya program-program aplikasi berbahasa pengantar bahasa Inggris dan pada umumnya perintah-perintah dasar komputer serta bantuan yang diberikan dalam bahasa itu, peningkatan kemampuan pustakawan semakin sukar. Tidak dapat disangkal ⎯meski tidak didukung data penelitian⎯ jumlah pustakawan yang memahami bahasa Inggris (pasif) tidaklah begitu banyak.

Dalam hal lain, format data yang disimpan dalam pangkalan data bibliografis dalam sistem automasi di Indonesia, yakni IndoMARC (Indonesia Machine Readable Catalogue), belum begitu memasyarakat di kalangan pustakawan. Banyak pustakawan yang merasa “disibukkan” oleh tanda-tanda yang digunakan dalam format ini sewaktu meng-

 

entry

-kan data. Anggapan lain yang tidak benar adalah bahwa tanda-tanda ^ (tudung) atau nomor tengara (tag) diperlukan karena program aplikasi yang digunakan adalah CDS/ISIS, sedangkan kalau program aplikasi dibangun dengan Visual FoxPro tidak perlu tanda-tanda yang “susah” itu. Semua itu menyiratkan bahwa pustakawan belum memiliki wawasan yang benar tentang IndoMARC.

Upaya peningkatan kemampuan pustakawan memang telah sering dilakukan, misalnya dalam penataran atau pelatihan komputer. Hanya saja, materi penataran/pelatihan itu lebih menekankan pada keterampilan menggunakan program tertentu dan kadangkala malah kurang bermanfaat dalam pekerjaan kepustakawanan, misalnya program CDS/ISIS atau “keturunannya” WINISIS. Alhasil, pustakawan mampu menggunakan CDS/ISIS namun tidak mengetahui apa yang dilakukannya begitu menghadapi setumpuk data bibliografis di tempat kerjanya atau mengelola berkas-berkas komputer dengan perintah dasar

 

operating system

. Seringkali pula penataran/pelatihan tidak memberikan materi tentang konsep automasi dan komputer serta apa yang mesti dipersiapkan dan

Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.1, No.2, Desember 2005

 

Ardoni: Teknologi Informasi: Kesiapan Pustakawan Memanfaatkannya USU Repository © 2006 Halaman

36

dikerjakan untuk memulai langkah ke arah automasi. Tentunya penyusunan materi penataran/pelatihan demikian perlu direvisi sehingga dapat memberikan bekal yang cukup bagi pustakawan yang menjadi pesertanya.

Rendahnya kemampuan rata-rata pustakawan dalam berbahasa Inggris menyiratkan perlunya penataran atau pelatihan bahasa Inggris bagi pustakawan sekurang-kurangnya tentang bahasa Inggris yang sering digunakan sebagai bahasa perantara manusia dan komputer.

3. Rancangan Program Aplikasi

Program aplikasi perpustakaan dirancang untuk membantu pustakawan dalam sistem automasi. Di Indonesia, program-program tersebut sudah cukup banyak beredar, antara lain Dynix, VTLS, NCI-BookMan, CASPIA, dan sebuah program DBMS (DataBase Management System) untuk pusdokinfo, yakni CDS/ISIS yang bisa diperoleh secara gratis. Khusus mengenai CDS/ISIS, pustakawan IPB telah melengkapinya dengan fasilitas untuk menangani sirkulasi.

Hanya saja tidak banyak di antara program-program di atas yang optimal pemakaiannya, bahkan ada yang tidak digunakan sama sekali setelah dibeli. Dari pandangan sekilas, salah satu kendala dalam pengoperasian program-program itu adalah kurang sesuainya fasilitas program dengan kebutuhan pustakawan, misalnya dalam hal prosedur kerja atau bentuk keluaran (output) tercetak. Sebagai akibatnya, pustakawan menjadi kurang “bergairah” apalagi bila program aplikasi tidak memiliki fasilitas yang diperlukannya.

Hampir semua program aplikasi dibuat oleh perancangnya berdasarkan pengetahuan perancang tentang pusdokinfo dan bukan berdasarkan kebutuhan pustakawan. Pustakawan “dipaksa” mengikuti kemauan program dan bukan sebaliknya program yang mengikuti kebutuhan pustakawan. Keadaan demikian dapat dibalik dengan melibatkan pustakawan dalam merancang program aplikasi, misalnya dalam hal struktur data, format tampilan, atau bentuk keluaran. Untuk itu dibutuhkan jalinan kerja sama antara perancang program (mungkin dari bidang ilmu komputer) dan pustakawan.

Sehubungan dengan itu, pertanyaan yang cukup mengganggu adalah apakah memang perlu mencatat data bibliografi sebanyak yang dinyatakan dalam panduan IndoMARC? Apakah tidak “diperbolehkan” kalau butir data yang dicatat dikurangi jumlahnya dan tanda-tanda “aneh” seperti tudung (^) dieliminasi? Bukankah di Internet yang telah terbukti dapat menjadi sumber informasi, struktur data yang digunakan tidaklah serumit IndoMARC?

4. Peraturan tentang Angka Kredit

Dalam Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional RI Nomor 72 Tahun 1999 yang memuat peraturan angka kredit pustakawan (Indonesia, 1999: 16) tertera angka kredit untuk pekerjaan mengalihkan data bibliografis dalam bentuk manual adalah 0,002 per sepuluh cantuman (

 

record), sedangkan dalam bentuk elektronik adalah 0,003 per sepuluh cantuman. Dalam keputusan yang sama dinyatakan bahwa angka kredit untuk tugas mengelola data bibliografis dalam bentuk katalog kartu (manual) adalah 0,005 per sepuluh cantuman dan dalam bentuk basis data 0,005 per satu file

. Perlu ditambahkan, hanya dua butir itulah peraturan angka kredit untuk tugas-tugas yang “berbau” komputer.

Dari peraturan di atas terlihat bahwa penghargaan terhadap pekerjaan yang berkaitan dengan komputer atau automasi masih belum memadai. Secara kasar dapat dihitung bahwa petugas

 

entry data elektronik hanya memperoleh kelebihan satu angka daripada petugas “manual” untuk setiap 1.000 judul. Begitu pula, nilai bagi tugas mengelola data bibliografis secara elektronik ternyata amat kecil bila dibandingkan dengan pekerjaan serupa secara manual. Tugas itu memperoleh nilai yang sama (0,005) untuk beban kerja yang berbeda (10 cantuman dan satu file). Berarti mengelola basis data berisi 10 cantuman secara manual sama nilainya dengan mengelola basis data sebanyak satu file

secara elektronik.

Aturan angka kredit bagi pengelola basis data tersebut terasa sangatlah aneh karena membandingkan 10 cantuman dengan satu

 

file. Perlu dicatat bahwa satu file

dapat berisi cantuman sebanyak satu, 10, 100, sampai 100.000 bahkan lebih daripada itu. Lalu, apakah yang dimaksud dengan mengelola data bibliografis secara elektronik? Apakah hal ini menyiratkan bahwa pembuat aturan angka kredit pustakawan juga tidak memahami pekerjaan yang berkaitan dengan komputer sehingga membuat aturan yang “lucu” itu? Mengapa tidak

Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.1, No.2, Desember 2005

 

Ardoni: Teknologi Informasi: Kesiapan Pustakawan Memanfaatkannya USU Repository © 2006 Halaman

37

ada aturan untuk pekerjaan alih media dari dokumen berupa kertas menjadi dokumen terbaca komputer?

Tanpa bermaksud mengecilkan upaya penyusunnya, peraturan angka kredit ternyata masih memerlukan perubahan karena dengan peraturan yang ada sekarang, pustakawan belum akan termotivasi untuk bekerja dalam sistem automasi. Peraturan angka kredit semestinya mampu mendorong pustakawan untuk menerima dan terlibat dalam sistem automasi, Internet, dan sebagainya.

5. Materi Pendidikan Kepustakawanan

Di Indonesia perguruan tinggi yang membuka pendidikan kepustakawanan semakin meningkat jumlahnya. Namun disayangkan, dalam kurikulum perguruan tinggi tersebut materi tentang teknologi informasi tidaklah setara bobotnya. Padahal sejak lama ilmu perpustakaan dan informasi telah memiliki kurikulum nasional yang memungkinkan lulusan setiap perguruan tinggi tersebut memiliki kemampuan yang tidak banyak berbeda termasuk dalam hal pemanfaatan teknologi informasi. Kalaupun memerlukan perubahan, penambahan atau pengurangan mata kuliah tentunya akan berlaku secara menyeluruh pula. Bila dididik dengan kurikulum yang baku, maka ketika telah bekerja, pustakawan “baru” akan setara kemampuannya dalam menggunakan teknologi informasi.

Lebih daripada itu, materi pendidikan kepustakawanan masih terjebak pada pekerjaan-pekerjaan konvensional seperti inventarisasi bahan pustaka menggunakan buku berukuran folio, klasifikasi yang mesti DDC, pengetikan katalog kartu, pembuatan label buku, sirkulasi manual yang menggunakan tiket-tiket peminjaman, dan sebagainya.

6. Organisasi Profesi

Menilik kelima aspek terdahulu, peranan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) sebagai organisasi profesi terasa semakin dibutuhkan untuk ditingkatkan. Tentunya akan lebih mudah bagi pustakawan untuk saling berkomunikasi dan bekerja sama dengan memanfaatkan wadah ini. Umpamanya ⎯melalui program-programnya⎯ IPI dapat membentuk semacam sanggar-sanggar kerja sebagai tempat “bertukar-cerita” bagi pustakawan.

Peranan IPI juga diperlukan dalam upaya penyetaraan kualitas lulusan lembaga pendidikan kepustakawanan. Dengan kata lain, IPI berperan sebagai lembaga akreditasi yang memantau proses pembentukan sumber daya manusia terdidik itu. Lebih jauh, IPI juga bisa mengakreditasi (calon) pustakawan seperti yang dilakukan oleh organisasi profesi pustakawan di negara maju. Harapan pada IPI tersebut akan menjadi kenyataan bila IPI lebih diberdayakan oleh anggotanya dan yang paling penting oleh pengurusnya; tidak sekedar kongres dan musyawarah daerah untuk memilih pengurus lalu “lupa” bekerja, tetapi ingat untuk melakukan pemilihan pengurus seta